terkini

Iklan

Kita Tidak Enakan, Dia Seenaknya: Saat Kebaikan Disalahartikan

7/06/26, 09:49 WIB Last Updated 2026-07-06T02:49:05Z

 


Mimbar Hati - Di tengah kehidupan bermasyarakat, ada satu ungkapan yang sering kita dengar dan terasa sangat dekat dengan realitas: "Kita tidak enakan, dia seenaknya." Kalimat sederhana ini menyimpan pesan yang dalam. Ia menggambarkan situasi ketika seseorang terus menjaga perasaan orang lain, sementara pihak lain justru memanfaatkan sikap tersebut tanpa rasa sungkan.


Sikap tidak enakan pada dasarnya adalah cerminan akhlak yang baik. Ia lahir dari rasa hormat, empati, dan keinginan untuk menjaga hubungan tetap harmonis. Orang yang tidak enakan akan rela membantu, mengalah, bahkan mengorbankan waktu dan tenaganya demi orang lain.


Namun, persoalan muncul ketika kebaikan itu tidak dihargai. Ada orang yang menganggap keramahan sebagai kelemahan, kesabaran sebagai kesempatan, dan kesediaan membantu sebagai kewajiban yang harus terus diberikan. Akibatnya, beban selalu dipikul oleh orang yang sama, sementara yang lain menikmati hasilnya dengan santai.


Fenomena seperti ini dapat ditemukan di berbagai tempat: di lingkungan kerja, organisasi, keluarga, hingga kehidupan bermasyarakat. Ada yang selalu datang lebih awal untuk menyiapkan kegiatan, ada yang membersihkan setelah acara selesai, ada yang membayar lebih banyak demi menutupi kekurangan, tetapi ada pula yang hanya hadir untuk menikmati hasil tanpa pernah merasa memiliki tanggung jawab.


Islam mengajarkan keseimbangan. Menolong adalah ibadah, tetapi membiarkan diri terus-menerus dimanfaatkan bukanlah kebijaksanaan. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang kuat, bijaksana, dan mampu menempatkan sesuatu pada porsinya. Kebaikan harus tetap dijaga, tetapi juga harus disertai dengan ketegasan agar tidak melahirkan ketidakadilan.


Karena itu, penting membangun budaya saling memiliki. Sebuah pekerjaan akan terasa ringan jika setiap orang mengambil perannya. Jangan biarkan hanya segelintir orang yang bekerja, sementara yang lain hanya menjadi penonton. Kebersamaan tidak diukur dari siapa yang paling banyak menikmati hasil, tetapi dari siapa yang ikut memikul tanggung jawab.


Pada akhirnya, menjadi orang baik tetaplah pilihan yang mulia. Namun, kebaikan tidak boleh membuat kita kehilangan harga diri atau membiarkan orang lain terus bersikap semaunya. Sebab, hubungan yang sehat dibangun di atas saling menghargai, bukan saling memanfaatkan.


Mari tetap menjadi pribadi yang baik, tetapi juga bijak. Jangan sampai kita terus "tidak enakan", sementara orang lain semakin "seenaknya".


#my

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kita Tidak Enakan, Dia Seenaknya: Saat Kebaikan Disalahartikan

Terkini

Iklan